SMK NEGERI 1 BEJI

Jl. Wicaksana No. 22b Gununggangsir, Kec. Beji, Kab. Pasuruan

AKTIF, KREATIF, INOVATIF & PRESTASI

Wahyu Resa, Alumni SMKN 1 Beji mewakili Indonesia ke WSC Abu Dhabi

Senin, 02 Oktober 2017 ~ Oleh #RES ~ Dilihat 626 Kali

Suasana SMKN 1 Beji saat Jawa Pos Radar Bromo bertandang kesana pada Sabtu (30/9) siang memang masih tampak ramai. Maklum, kegiatan belajar mengajar memang masih tampak berlangsung. Bedanya, Sabtu lalu ada alumni SMKN 1 Beji yang hendak pamit ke sekolah dan guru-guru sebelum bertolak ke Jakarta dan menuju Abu Dhabi.

Tak lama, Syaefudin, Kepala SMKN 1 Beji pun menemui di Kantor Kepala Sekolah. Saat itu Wahyu Resa Wardana, 20, pelajar asal Kejapanan, Gempol ini memang belum hadir. Maklum dirinya masih harus berpamitan dan meminta restu dengan keliling ke guru-guru di SMKN 1 Beji.

“Resa memang sudah setahun ini ikut pembelajaran khusus di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) di Arjosari, Malang. Kendati sudah lulus, hampir setiap Sabtu tetap datang ke SMKN 1 Beji,” ujar Syaefudin. Resa, memang sudah lulus tahun 2015 lalu dari SMKN 1 Beji. Namun karena saat juara 1 Teknik Pemasangan Instalasi Tenaga Listrik (TPITL) tingkat nasional di amasih berstatus pelajar di SMKN 1 Beji, Resa memang tak bisa melepas memorinya di SMKN 1 Beji. Termasuk Sabtu lalu. Sebelum bertolak untuk mengikuti lomba di World Skills Competition (WSC) tingkat Internasional di Abu Dhabi pada 13-21 Oktober mendatang, Resa menyempatkan untuk datang berpamitan dan meminta doa kepada guru-guru di sekolah lamanya.

Tak lama, Resa pun datang bersama mentornya dari P4TK, Supaat. Kemudian, media ini mengobrol santai bersama Resa untuk mengetahui persiapannya mengikuti WSC mendatang. Saat ini dikatakan usianya memang sudah menginjak 20 tahun. Namun WSC yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali itu memang mematok batas maksimal 22 tahun. “Jadi kendati saya sudah lulus SMK, namun dari faktor usia masih masuk, dan saya mewakili Indonesia lantaran Juara 1 Teknik Pemasangan Instalasi Tenaga Listrik (TPITL) tingkat nasional pada 2015 lalu,” ungkapnya. Setelah lulus SMK tahun 2015 lalu, Resa memang memilih tak langsung melanjutkan kuliah. Selain karena faktor biaya, melihat pengalaman dari seniornya yang pernah ikut WSC, dipastikan akan mengikuti pelatihan panjang dan bisa-bisa di drop out dari kuliah. Akhirnya Resa sempat bekerja sebagai PT Sorini Towa Berlian sebagai tenaga ahli teknisi Instalasi. Kendati baru 6 bulan bekerja, Resa pun langsung dipanggil kembali untuk mengikuti Asean Skills Competition (ASC).

Sebelum ke ASC, Resa masih harus ikut seleksi lagi tingkat Nasional dan mengalahkan mahasiswa dari universitas dan juga praktisi di perusahaan yang memiliki batas usia 22 tahun.“Dari kurang lebih 20 peserta pilihan, ternyata saya juara 1 meskipun peserta termuda 18 tahun,” ungkapnya. Dari situ, dirinya juga sempat mengikuti training center di Balai besar Pengembangan Latihan Kerja di Serang, Banten mulai Maret – September 2016 bersama 3 besar. Kemudian, Resa terpilih 2 besar dan mengikuti Asean Skills Competition di MAEPS Serdang, Selangor, Malaysia pada 19-29 September 2016 lalu. Resa yang mengikuti lomba electrical instalation dengan fokus Control Smart Home akhirnya berhasil meraih Medal of Excellent. Dari situ, langsung pada 1 Oktober 2016, Resa pun dipanggil kembali untuk mempersiapkan WSC, sehingga mulai 1 Oktober 2016 sampai 4 Oktober 2017, Resa mengikuti training center di P4TK. Resa mengatakan untuk electrical, Resa memang satu-satunya yang di training untuk lomba WSC. Sedangkan lainnya juga ada 31 peserta dari 29 bidang yang juga di training di berbagai daerah di Indonesia untuk persiapan WSC. “Untuk jam belajarnya, di kelas jam 07.00 sampai 16.00. Lalu lanjut belajar sendiri habis isya sampai 21.00, Senin sampai Jumat. Jadi kalau Sabtu biasanya pulang juga mampir ke SMKN 1 Beji,” ungkapnya. Resa menyebutkan, belajar untuk menyiapkan diri sebelum berlaga di WSC memang sempat membuat stres dan tertekan. Karena bidang yang akan diujikan belum ditentukan, sehingga Resa harus belajar semua mulai dari elektro, listrik sampai aplikasinya ke IT. “Kalau sudah stress, saya pilih ke masjid dan diam saja untuk menenangkan diri. Tapi Alhamdullilah bisa tenang dan siap sampai berangkat nanti,” ungkapnya. Resa sendiri berasal dari keluarga broken home. Ibundanya, Sri Yunani, 42, tak pantang menyerah dan bekerja membesarkan kedua anaknya dengan berjualan gorengan molen di perempatan Gununggangsir. Resa adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Dia mengaku tetap ingin meneruskan pendidikan hingga ke jenjang kuliah. “Tetap habis ini ingin melanjutkan kuliah, dan harus dapat beasiswa agar bisa lanjut,” ungkapnya. Memang sudah ada beasiswa dan tawaran di berbagai universitas. Namun Resa masih lebih fokus untuk WSC dan berencana untuk kuliah mulai tahun ajaran baru.

Syaefudin, Kepala SMKN 1 Beji menambahkan bahwa Resa memang sudah mendapatkan tawaran di berbagai universitas dan dipastikan mendapatkan beasiswa. “Sekolah ikut bangga dengan prestasi Resa, apalagi sampai mewakili Indonesia di tingkat Internasional,” ungkapnya.Harapannya, prestasi ini menjadi motivasi adik kelas dan juga siswa lainnya di Pasuruan. Agar ikut terpacu untuk memiliki prestasi yang juga bisa mengharumkan nama Kabupaten Pasuruan.

 

Sumber : https://www.jawapos.com/radarbromo/read/2017/10/02/16803/wahyu-resa-wardana-anak-penjual-molen-yang-wakili-indonesia-ke-wsc

 

 

Smkn1beji Berita Sekilas-info

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Hj. Wiwit Fatkurinah, S.Pd

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera buat kita semua. Selamat datang di Website Resmi SMKN 1 Beji. Puji syukur saya panjatkan…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana fitur website ini?

LIHAT HASIL